Pemudik dan petugas pegadaian

9 Nov 2011

Disuatu kampung kumuh hiduplah sepasang suami istri dengan anak-anaknya. Keluarga itu memang bukan penduduk asli kampung itu, “orang pendatang” sebutan yang sering dibisik-bisikkan oleh tetangganya yang asli kampung itu. Tapi sebutan itu tak membuat mas Jo, si orang pendatang itu, menjaga jarak dengan para penduduk asli. Mas Jo menyadari bahwa ia hidup hanya punya satu tujuan yaitu mengisi hidupnya dengan hal-hal yang bermanfaat. Hidup berdampingan dan saling menghormati adalah lebih bermanfaat dari pada berseteru dan bermusuh-musuhan.Sebagai seorang perantau, kebiasaan mas Jo setiap menjelang Idul Fitri adalah pulang ke kampung halamannya. Kebiasaan ini mendapat dukungan dari banyak kalangan, mulai dari pemerintah, perusahaan besar, sampai tetangga sekitarnya. Lho kok?? Ya begitulah kebiasaan pulang kampung para perantau ternyata sejalan dengan program pemerintah yaitu pemerataan kesejahteraan. Masa sih?? Konon katanya dengan ritual pulang kampung peredaran uang sekali waktu dapat menyebar hingga ke pelosok desa karena dibawa oleh para perantau yang pulang kampung. Setidaknya uang yang dibelanjakan oleh para pemudik itu dapat sedikit membantu pemerintah agar peredaran uang tidak melulu terpusat di kota-kota besar. Perusahaan besar seperti pabrik semen, pabrik motor, pabrik mobil, pabrik jamu, sampai warung kelontong ikut kecipratan untungnya. Bahkan tetangga mas Jo yang asli penduduk kampung itupun mendapat rejeki tambahan dengan adanya kebiasaan pulang kampung itu. Pasalnya pada perantau yang hidup berkecukupan biasanya menitipkan keamanan rumah tinggalnya pada orang-orang yang tidak pulang kampung.

Menjelang Idul Fitri tahun ini mas Jo berencana untuk pulang kampung bersama seluruh keluarganya. Tiket bus telah dibeli, segala perlengkapan untuk “ritual” pulang kampung pun telah disiapkan seperti : baju ganti, mainan anak, oleh-oleh dll. Prosesi persiapan itu sendiri memakan waktu hampir seharian ia bersama istri tercintanya beres-beres segala sesuatu yang diperlukan untuk persiapan perjalanan pulang kampung. Tetapi masih ada satu hal yang membebani pikiran mas Jo, masalah keamanan rumah, bukan, keamanan rumah tak jadi soal, abis rumah kontrakan, isinya juga tempat tidur sama lemari doang. Yang jadi masalah adalah TV sama Motor!! bagaimana dengan motor ni… Kalau di simpan dirumah, ia takut jadi incaran si tangan jahil!! Mau dititip ke tetangga takut merepotkan.

Pikir punya pikir ia mendapatkan ide jitu. Sehari menjelang keberangkatannya, mas Jo mengikat TV di belakang motornya, kemudian ia melaju menuju kantor pegadaian dekat kecamatan. Segera mas Jo mengambil nomor antrian. “Permisi bu…, saya mau menggadaikan TV dan motor saya” kata mas Jo pada petugas pegadaian. “Ya pak, tolong bawa ke petugas penaksir di ruang sebelah” jawab ibu petugas itu. Mas Jo bergegas membawa motor dan TV nya ke ruang penaksiran barang. Seelah diteliti oleh petugas penaksir mas Jo kembali ke ruang utama untuk menggu panggilan. ” TIGA PULUH DUA DI KASIR EMPAT” terdengar suara dari petugas. Mas Jo bangkit dari duduknya menuju kasir empat.

“Barang bapak ditaksir Rp. 2.500.000,-, bapak mau pinjam berapa?” tanya petugas. “lima ratus ribu aja bu” jawab mas Jo. “Lho pak nggak diambil semua?” tukas si petugas. Dalam hatinya petugas itu tertawa, dikasih banyak kok ngambilnya sedikit, payah!! Nggak butuh duit kali tuh orang?

Setelah menandatangani administrasinya mas Jo menerima uang Rp. 500.000,- Hati mas Jo lega rasanya, motor ama TV aman, dapet pinjeman duit lagi. Itung-itung bunganya Rp 25.000,- buat biaya penitipan, hehehe… Terima kasih Pegadaian, sudah membantu para pemudik ….


TAGS sekitar kita


-

Author

Follow Me