kerusuhan lagi?

29 Sep 2010

Hampir satu minggu terakhir berita di TV mengabarkan tentang kerusuhan yang silih berganti di berbagai belahan wilayah Indonesia. Kerusuhan hampir pasti selalu disebabkan oleh kemarahan yang berlebihan oleh seseorang atau sekelompok orang yang kemudian berkembang menjadi kemarahan massa oleh karena rasa solidaritas kelompok atau rasa kebersamaan lain yang sangat kuat.

Sekedar menyederhanakan masalah, saya teringat saat sekitar akhir periode 90-an sampai awal 2000-an. Saat itu “kerusuhan lokal” (istilah media yang lebih populer adalah tawuran) hanya dilakukan oleh para pelajar (SMP - SMA). Saat itu hampir dipastikan setiap akhir tahun pelajaran (usai Ujian) adalah saat-saat rawan tawuran pelajar. Penyebab utamanya kadang hanyalah masalah sepele, seperti saling mengejek, saling bersenggolan dan hal-hal sepele lain. Jika kita menggali informasi dari para pelaku tawuran, kita dapat membedakan menjadi tiga kategori yaitu : (1) adalah orang/anak yang punya masalah dengan orang/pihak lain. (2) adalah orang/anak yang mempunyai hubungan pertemanan dengan anak yang punya masalah, dan (3) adalah para penggembira, yang sebenarnya tak pernah punya masalah, bahkan apa sumber masalahpun tidak tahu.

Kategori (1) biasanya adalah anak yang cukup populer diantara teman-temannya, sehingga mempunyai kemampuan mempengaruhi teman yang cukup kuat. Hal ini dapat dilihat pada beberapa kasus serupa yang menimpa anak yang tak mempunyai banyak teman dengan permasalahan yang sama tidak menimbulkan tawuran. Karena memang permasalahan pribadi itu tak layak menjadi penyebab tawuran. Berbeda halnya jika yang mempunyai masalah adalah anak “populer” dan disegani oleh anak lain ejekan seseorang kepada dirinya akan dirasakan pula sebagai ejekan kepada kelompoknya. Sehingga rasa solidaritas akan memperbesar kemungkinan terjadinya tawuran.

Satu hal yang selalu terjadi adalah bahwa mereka yang bermasalah tidak pernah berfikir tentang alternatif penyelesaian lain selain membalas dengan tawuran.

Mereka tak pernah menyelesaikan masalah dengan sikap ksatria, yaitu sikap yang selalu menjunjung tinggi kebenaran dan keadilan. Apalagi sikap pemaaf mungkin tak pernah terlintas dalam benak anak-anak yang sedang tawuran. Yang lebih mengemuka pada anak-anak ini biasanya adalah mereka terlalu tinggi menghargai dirinya, dan sebaliknya kurang menghargai orang pada pihak lain. Sehingga pembalasan merupakan harga yang harus dibayar oleh pihak lain yang bermasalah.

Kategori (2) adalah anak-anak yang mempunyai ikatan pertemanan yang cukup kuat, sehingga mereka seolah dapat merasakan apa yang dirasakan oleh sahabatnya. Akibat dari kelompok kedua ini rasa solidaritas, kebersamaan atau apapun namanya akan menyebar lebih luas lagi, karena masing-masing dari mereka juga mempunyai sahabat lain.

Kategori (3) adalah anak-anak yang sekedar ikut-ikutan atau malah ada pula mereka yang terjebak dalam “kancah tawuran”. Hal ini bisa terjadi karena misalnya mengenakan seragam sekolah yang sama.

Pencegahan yang paling efektif adalah jika ada anak yang berani berinisiatif untuk mencari solusi lain. Salah satu alternatif adalah melaporkan pada gurunya. Berkat si “pemberani” (bagi kelompok yang akan tawuran justru disebut “pengecut”) tawuran biasanya akan terhindarkan, karena dengan didampingi guru, jika diperlukan kedua pihak yang bermasalah akan dipertemukan untuk mencari solusi terbaik. Janji untuk tidak mengulangi , kata maaf yang tulus dari pihak yang bersalah dan penerapan sanksi tegas biasanya akan menyelesaikan semua permasalahan dan harga diri serasa telah terbayar lunas.

Jika kita kembalikan ke konteks kerusuhan yang sedang terjadi saat ini tentu tidak sesederhana itu permasalahannya. Perlu kajian mendalam untuk mencari penyebab pokoknya. Namun prinsip penyelesaian yang seimbang, ketegasan dari para penegak hukum, dan kearifan para “pemberani” untuk mencari alternatif penyelesaian damai atas konflik saya yakin akan mencegah timbulnya kerusuhan-kerusuhan baru dimasa datang.

Para “pemberani” ini harus meyakinkan dirinya sendiri bahwa penyelesaian damai (berlandaskan hukum dan keadilan termasuk dalam kategori ini) atas segala permasalahan adalah merupakan tindakan ksatria untuk menghindari kemarahan massa yang lebih meluas. Tindakan cepat dan adil dari penegak hukum merupakan hal yang dapat menghindari lebih meluasnya kemarahan massa. Semoga…


TAGS opini


-

Author

Follow Me