Arti sebuah hari Raya…

11 Sep 2010

Tanggal 1 bulan Syawal setiap tahun Hijriah, merupakan hari yang sangat ditunggu oleh umat Islam. Munculnya bulan sabit pada akhir Ramadhan menjelang Maghrib adalah tanda berakhirnya kewajiban seorang muslim untuk berpuasa pada esok harinya. Inilah yang sering kita menyebut hari Raya Idul Fitri atau ada pula yang menyebut hari Lebaran.

Secara alamiah hari Idul Fitri diawali dengan terbitnya matahari dan diakhiri dengan terbenam di ufuk barat. Namun secara makna, masing-masing orang boleh dan bebas menafsirkannya.

Idul Fitri konon katanya berasal dari kata “Fitrah” yang artinya menurut saya hampir serupa dengan “back to basic”. Sehingga sekali lagi menurut saya saat Idul Fitri itu adalah saat manusia kembali menjadi “manusia”. Apakah selama ini manusia tidak menjadi “manusia”? Hanya kita sendiri dan Allah swt yang dapat menjawab.

Tapi jika kita mencoba untuk merenung sejenak… Siapakah manusia yang sebenarnya? Manusia yang masih murni menjadi “manusia” menurut saya adalah bayi. Jika anda tidak setuju dengan pernyataan saya anda tak perlu melanjutkan membaca tulisan ini.

Bayi mempunyai beberapa sifat dan ciri khas, antara lain :

  1. Jujur, polos, dan terus terang (apa adanya). Seorang bayi tak mungkin berdusta, berpura-pura apalagi berakting untuk bertindak yang tidak sesuai dengan kata hatinya. Seorang bayi tak akan pernah berbohong untuk menguntungkan dirinya sendiri, apalagi merugikan orang lain.
  2. Sederhana, tidak serakah, dan tidak berlebih-lebihan. Seorang bayi tidak pernah meminta kecuali apa yang ia butuhkan, yaitu air susu. Itupun hanya sekedar untuk memenuhi rasa dahaganya. Ia tak pernah berfikir untuk menyimpan air susu sebanyak-banyaknya sebagai persediaan, atau merampas air susu orang lain untuk ia minum sendiri. Ia hanya mau menerima sejumlah yang ia butuhkan. Jika sang Ibu memberikan sedikit bonus kelebihan susu untuknya, ia bahkan tidak mau menerimanya dengan memuntahkan air susu itu.
  3. Lemah lembut dan penuh kasih sayang. Seorang bayi suka akan kelembutan, ketenangan dan rasa kasih sayang. Membenci kekerasan dan bahkan suara yang kasarpun tidak disukainya.
  4. Berbakti dan suka membalas budi. Seorang bayi selalu berbakti pada ibu yang mengasihinya, mendengar suara ibunya pun sudah cukup untuk menghentikan tangisannya. Jerih payah sang ibu ia balas dengan tawa riang yang bisa ia lakukan.

Masihkah sifat “kemanusiaan” itu ada pada diri kita? Tafakur dan merenung mungkin akan dapat membantu kita menemukan jawabannya…


TAGS renungan


-

Author

Follow Me